Tuesday, June 17, 2014

Menghargai ODHA Melalui Film

Hai Respect People! Apa kabar nih? Semoga kalian selalu baik ya..

Kali ini iReason akan mengulas satu film hasil karya anak bangsa yang mengusung tema HIV/AIDS yang ada di bumi Papua. Mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang menonton film tersebut tapi buat yang belum tau, iReason akan kasih ulasannya.

"Cinta Dari Wamena" adalah satu gerakan untuk membantu saudara - saudara kita di Papua dalam menghadapi epidemi HIV di sana. Salah satu cara untuk membantu mensosialisasikan gerakan ini adalah dengan dibuatnya satu film dengan judul yang sama.

Film "Cinta Dari Wamena" yang disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo dan dibintangi oleh Maximus Itlay, Benyamin Lagowan, Madonna Marrey, Amyra Jessica, Nicholas Saputra dan Susan Bachtiar ini mengisahkan tentang tiga sahabat yang tinggal di Papua. Mereka memiliki impian untuk bisa terus sekolah. Impian ini membawa mereka ke Wamena, dimana mereka bisa bersekolah gratis. Tetapi disana, persahabatan mereka malah diuji dengan gaya hidup yang bebas dan wabah AIDS yang melanda remaja Papua. Perjalanan hidup mereka pun membawa mereka ke arah dan tempat yang berbeda, mulai dari Papua sampai Jakarta, dimana Pertemuan dengan seorang musisi
(Nicholas Saputra) membuat Litius (Maximus Itlay) mecari lagi persahabatan yang hilang.
Sebuah Kisah tentang persahabatan dan cinta dengan latar belakang kehidupan remaja Papua dan alam Papua yang indah.

Dalam film ini yang menarik bukan hanya dengan latar belakang kehidupan remaja dan alam Papua yang indah saja, tetapi ada satu misi yang ingin disampaikan yaitu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS terutama masyarakat Papua. Lasja Fauzia Susatyo juga menambahkan bahwa di dalam film ini juga digambarkan bagaimana HIV itu ada obatnya dan di Papua itu ada tempatnya.
Film ini juga ikut menyuarakan anti diskriminasi terhadap anak atau orang dengan HIV/AIDS, dan hal tersebut pun mendapat dukungan dari AusAID (Australian Agency for International Development) dan The Ford Foundation.




Melalui film "Cinta Dari Wamena" ini diharapkan masyarakat sadar akan bahaya virus HIV dan tau bagaimana penularannya sehingga mereka tidak lagi berstigma bahwa Orang Dengan HIV/AIDS itu harus dihindari. Dengan pesan yang sudah jelas, seharusnya kita sebagai generasi muda dan para Respect People dapat ikut mendukung kegiatan tersebut dengan menghilangkan stigma tentang ODHA. Lebih bagusnya lagi jika kita bisa membantu menghilangkan stigma tersebut dengan sebuah karya seperti yang dilakukan oleh teman - teman dari Cinta Dari Wamena Project.

STOP DISKRIMINASI MELALUI KREASI!!

http://www.cintadariwamena.com/

Tuesday, May 6, 2014

Diskrimiasi Terhadap Mayat ODHA


Diskriminasi itu masih ada! 

Diskriminasi tidak hanya dialami oleh ODHA yang masih hidup saja, tetapi ODHA yang sudah meninggal juga masih mengalami diskriminasi. 

Miris! melihat mayat penderita HIV/AIDS tidak ada yang mau memandikan, padahal menurut dr Leo Indrawahyono SpKJ dari Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) memandikan jenazah penderita HIV/AIDS tidak akan menular dan aman untuk dimandikan.

Banyak orang yang masih kurang pemahaman mengenai penularan virus HIV/AIDS. Padahal orang yang sudah meninggal, berarti sel - sel darahnya sudah mati begitu pula dengan sel darah yang mengandung virus HIV/AIDS akan ikut mati juga, jadi tidak perlu takut tertular HIV/AIDS. 

Hal ini membuktikan masih ada diskriminasi yang terjadi kepada para ODHA di Indonesia. Sebagai anak muda yang Respect terhadap ODHA, baiknya kita menghindari stigma buruk tersebut. 

Say No To Discrimination! 

Saturday, April 19, 2014

FESTIFAL FILM SYAIR, PEDULI AIDS LEWAT FILM PENDEK

Bagi kalian Respect People yang suka membuat dan menonton film pendek, tidak ada salahnya ikut berpartisipasi dan peduli terhadap ODHA melalui film pendek. Seperti yang dilakukan oleh teman - teman kita yang berkreasi melalui karya mereka yang dituang dalam bentuk sinematografi.

Syair Untuk Sahabat Foundation (SUSF) yang didirikan oleh Yudhi F. Oktaviadhi, Prof. Dr. dr. Sasuridjal Djauzi, SpSD, dan lainnya mendorong masyarakat agar lebih memahami HIV/AIDS dan mengajak untuk peduli, memberdayakan ODHA dan membantu memperpanjang harapan hidup ODHA.
Program terbaru Syair yaitu Festifal Film Syair merupakan asksi yang dilakukan untuk menularkan kepedulian tersebut. lomba film pendek ini mengambil tema seputar HIV/AIDS. Siapa saja bisa mengikuti lomba ini dalam bentuk film dokumenter atau cerita fiktif. Dengan adanya karya film tentang HIV/AIDS maka mereka mengharapkan bentuk kepedulian terhadap para ODHA.

Cerita yang dilombakan tidak dibatasi. Bisa seputar pergaulan, persahabatan, percintaan, penyebaran HIV, dampaknya, pencegahan atau kehidupan seputar HIV/AIDS. Film dibuat maksimal berdurasi 10 menit. Karya tersebut selanjutnya diunggah ke YouTUbe dengan mencatumkan #FestivalFilmSyair, kemudian peserta mengirimkan data diri atau kelompok.

Sederet dewan juri dari kalangan pekerja seni pun ikut turut serta menilai yang berhak menjadi juara. Diataranya Aktris Teater dan Sutradara Film Sha Ine Febrianti, Aktor Darius Sinatria, Ketua Syair Deasy Novianti dan Founder Syair Yudhi F. Oktaviadhi

Ada banyak cara untuk ikut peduli terhadap HIV/AIDS dan ODHA melalui kreasi. Sebagai anak muda yang peduli terhadap sesama, mari kita tuangkan kreasi kita dalam bentuk yang lebih positif agar dapat bermanfaat bagi orang banyak dan ikut berpartisipasi untuk SAY NO TO DISCRIMINATION!


#ZERODISCRIMINATION




source : www.republika.co.id

DANCE4LIFE, PEDULI AIDS MELALUI KREASI

Respect People, untuk peduli terhadap para ODHA ada banyak acara yang bisa kita lakukan. Salah satunya dengan berkreasi. Seperti yang diselenggarakan tahun 2010 dimotori oleh YPI (Yayasan Pelita Ilmu), YAI (Yayasan AIDS Indonesia), PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) dan Rutgers WPF Indonesia.

Melalui kegiatan DANCE4LIFE, remaja berperan aktif mencegah penularan HIV serta mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV. Kegiatan DANCE4LIFE menarik karena mengkombinasikan aspek edukasi HIV/AIDS dengan seni musik dan tarian.

Kegiatan berskala internasional ini ditunjukkan untuk remaja usia 13-19 tahun melalui 4 tahap "SCHOOL4LIFE" yaitu Inspire, Educate, Active dan Celebrate. Pada tahap  Inspire, remaja dimotivasi unttuk berperan aktif. Team DANCE4LIFE lokal terlatih (termasuk ODHA) ,mendatangi sekolah - sekolah untuk membawakan sesi interaktif HIV/AIDS dengan musik, drum serta tarian. Setelah remaja termotivasi untuk menjadi bagian DANCE4LIFE, pada tahap Educate mereka mengikuti workshop pengembangan diri berupa sesi intraktif tentang kesehatan seksual dan reproduksi, HIV/AIDS, termasuk keterampilan Public Speaking, debat, negosisai, membuat keputusan, kepemimpinan dan enterpreneurship. Mereka selanjutnya akan menjalankan tahap Active, yaitu secara aktif berinteraksi dengan teman sebaya dan keluarga untuk menyampaikan informasi HIV/AIDS, melakukan aksi penggalangan dana, advokasi dan menjadi relawan peduli AIDS. Mereka disebut sebagai remaja AGENT OF CHANGE karena telah mencoba untuk membentuk perubahan sosial, paling tidak untuk lingkingan terdekatnya. Tahap terakhir adalah Celebrate, sebuah event besar dalam kemasan pertunjukan musik peduli AIDS yang dilaksanakan menjelang hari
AIDS sedunia (1 Desember) untuk memperkuat komintmen mereka sebagai AGENT OF CHANGE.

So, tidak ada lagi kan alasan untuk tidak peduli dan ikut membantu mencegah penularan HIV serta mengurangi stigma diskriminasi terhadap ODHA? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? 


#CREATIONWITHOUT DISCRIMINATION




source : www.ypi.or.id

Friday, April 11, 2014

Penularan HIV/AIDS

Bagaimana HIV ditularkan?

Banyak orang berfikir bahwa penularan HIV/AIDS dengan cara mencium, memeluk, atau dengan berjabat tangan dengan orang HIV positif - atau hubungan sosial lainnya. Orang juga tidak tertular jika berada di sekitar orang HIV/AIDS atau menggunakan alat rumah tangga yang sama seperti menggunakan piring, sendok garpu, atau sprei yang sama. HIV/AIDS juga tidak tertular dengan cara meludah, bersin atau batuk atau lewat gigitan nyamuk.

Gejala HIV/AIDS mungkin belum tampak dalam beberapa tahun dan seseorang masih dapat kelihatan baik - baik saja namun masih bisa meularkan virus tersebut ke orang lain. Gejala HIV/AIDS mencakup demam, batuk dan diare. Cara terbaik untuk memastikan status HIV/AIDS dengan melakukan tes HIV/AIDS

HIV/AIDS dapat ditularkan oleh ODHA melalui darah (termasuk darah haid), semen (air mani), sekret (cairan vagina), ASI (Air Susu Ibu dari ibu yang terinfeksi HIV/AIDS)

Cara penularan :
- Lewat cairan darah :
Melalui transfusi darah/produk yang sudah tercemar virus HIV
Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna narkotika suntik
Melalui pemakaian jarum suntik yang berulang kali dalam kegiatan lain, misalnya penyuntikan obat, imunisasi, tindik, tato dan alat facial wajah.
- Lewat cairan sperma dan vagina :
Melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dan cairan vagina atau darah
-Lewat ASI :
Penularan ini mungkin ditularkan oleh ibu hamil yang positif HIV dan melahirkan normal, kemudian meyusui bayinya dengan ASI
Kemungkinan penularan dari ibu ke anak berkisar 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan ibu postif HIV kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif

Jadi penularan virus HIV/AIDS tidak semudah apa yang orang bayangkan, dengan hanya berkontak fisik dengan mereka bukan berarti kita dapat tertular virus HIV. Ketahui cara penularannya sehingga kita tidak perlu menjauhi orangnya. Jauhi VIRUSnya bukan ORANGnya.

STOP DISCRIMINATION! #ZERODISCRIMINATION

Thursday, April 10, 2014

iReason (I REspect AidS with creatiON)

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama CD4 yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.

Virus HIV  menyerang sel CD4 dan mengubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. sel darah ptuih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka  ketika diserang penyakit tubuh kita tidak memiliki pelindung. dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek.

AIDS adalah singkatan dari Acqured Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.

Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak bisa langsung terkena AIDS. Untuk menjadi AIDS membutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk menjadi AIDS yang mematikan. Saat ini tidak ada obat, serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS.

I RESPECT AIDS WITH CREATION merupakan kampanye untuk mengajak orang - orang menghargai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) tanpa diskriminasi.

Kampanye ini dibuat oleh sekelompok anak muda yang ingin pula mengajak anak muda yang lain untuk bisa sadar dengan penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia.
Maka dari itu kami memiliki tema yang berjudul "CREATION WITHOUT DISCRIMINATION" Selain ajakan untuk tidak menjauhi penderita AIDS, kami juga memberikan pembelajaran bagaimana sebenernya penyebaran virus HIV/AIDS. Banyak yang berspekulasi bahwa penyebaran virus dapat menular hanya dengan kontak fisik. Untuk itu kami ingin menggerakan masyarakat Indonesia untuk menghargai ODHA tanpa diskriminasi.
Salah satu cara mudah yang dapat kita lakukan sebagai generasi muda adalah dengan berkarya.
Untuk itu iReason mengajak kalian untuk menghargai ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dengan karya seni yang bisa kalian tunjukkan. Seperti melalui musik. film, design & hal - hal yang berkaitan dengan seni untuk menggambarkan kepedulian kalian untuk tidak mendiskriminasi para ODHA.
Berani berkata "CREATION WITHOUT DICRIMINATION"